Aku lupa kapan tepatnya, tapi yang jelas waktu itu aku sedang senang-senangnya mendegarkan K-Pop. Di Deezer, iya. Mungkin ceria-cerianya K-Pop sedikit banyak mengaburkan pikiran-pikiran yang berlebihan saat itu.
Aku lupa kapan terakhir kali menulis. Yang aku ingat, aku menulis ketika keadaan sedang gawat; sedang jatuh cinta atau sedang kehilangan.
Aku kurang mengerti saat ini ada di dalam keadaan yang mana. Jatuh cinta, iya. Kehilangan, mungkin juga iya. Karena sudah berkali-kali diucapkan selamat tinggal di saat aku jatuh cinta kembali.
Baiklah, keadaan yang mana pun, aku akan tetap menulisnya. Bismillah. Doakan.
***
Pertama-tama, terima kasih kepada playlist K-Pop di Deezer, karena sudah mengusir pikiran-pikiran aneh di tengah malam. Cukup berguna dalam beberapa bulan belakangan.
Aku cukup bingung ketika aku merasa kenapa di antara malam susah tidurku, kamu hanya hadir sedikit. Ada, tapi sedikit.
Saat itu, sejauh yang aku tahu, kita akan baik-baik saja meskipun sedang tidak baik-baik saja.
Yang lebih aku takutkan saat itu adalah bagaimana aku bisa tetap hidup berkecukupan ketika cicilan yang harus aku bayar setiap bulan semakin menakutkan.
Bagaimana aku bisa menikah jika menabung sedikit saja sangat susah.
Bagaimana aku bisa menjadi layak ketika nanti tinggal bersama.
Itu, dan itu yang terus yang aku pikirkan. Tidak bosan dan tidak juga hilang.
Kamu selalu bilang semua akan baik-baik saja. Aku selalu menghindar dan mengira ini tidak akan baik-baik saja jika aku masih begini adanya.
Kamu selalu percaya aku bisa melewati masa-masa ini dengan bersama. Aku selalu bersikeras tidak ingin kamu terbebani dengan ini semua.
Itu semua, sampai kamu mulai lelah menghadapi ego yang terus aku makan. Kemudian semuanya terasa semakin rumit ketika kamu mulai berhenti percaya.
Keadaan semakin memburuk. Kamu jadi mulai sering hadir di malam susah tidurku. Aku pikir kamu tidak perlu hadir sesering itu karena kita akan baik-baik saja. Tetapi, kenyataannya tidak sama sekali.
Kamu mulai lelah menemani. Tidak terasa situasi semakin sulit untuk dikendalikan. Banyak debat yang selalu bisa dimulai dari mana saja. Banyak pertanyaan tentang kapan ini semua akan selesai dan kembali seperti sedia kala; aku hanya diam, bingung. Bodoh sekali.
Kenapa seorang laki-laki tidak bisa mengambil keputusan? Bagaimana seorang laki-laki tidak berani menerima risiko?
Ketika itu belum selesai aku pikirkan, akhirnya ucapan selamat tinggal itu diucapkan juga. Berkali-kali datangnya. Matilah aku. Sampai yang terakhir kalinya, kamu bilang kalau kamu akan jauh lebih baik dengan orang yang lebih bisa menghargai kamu. Mati lagi aku.
Ternyata aku mengabaikan yang paling penting. Membiarkannya pergi ketika seharusnya aku pertahankan sebaik-baiknya. Yang selalu ada dan tinggal dengan segala masalahku dan aku selalu mendorongnya menjauh.
Kesalahan sangat besar ada padaku. Aku yang coba menyelesaikan satu hal dengan mengabaikan hal lainnya, membuat hal lain itu pergi meninggalkan.
Aku sadar seharusnya ini bukan hal yang harus dipisahkan, melainkan dilalui. Bersama.
Aku bahkan tidak akan sanggup melihat kamu bersama orang lain nantinya. Tolong bilang kalau aku masih boleh berjuang kembali. Aku akan coba sekali lagi jika memang diperbolehkan.
Memulai kembali apa yang seharusnya kita lalui bersama-sama.
***
Sesudahnya, aku akan tetap membawa hati ini ke tujuan pertama; bersamamu.
Ke mana pun hati kamu nantinya jatuh,
Selalu ada tempat khusus di sini ─hati yang aku asingkan untuk kita berdua bertemu kembali jika diizinkan.
Soal bagaimana nantinya, aku coba minta bantuan Tuhan.
Jika memang diizinkan bersama, aku amini.
Jika tidak, aku akan minta minta bantuan Tuhan lagi.



