Minggu, 21 Februari 2021

Tuhan, Boleh Aku Coba Lagi?

Aku lupa kapan tepatnya, tapi yang jelas waktu itu aku sedang senang-senangnya mendegarkan K-Pop. Di Deezer, iya. Mungkin ceria-cerianya K-Pop sedikit banyak mengaburkan pikiran-pikiran yang berlebihan saat itu.

Aku lupa kapan terakhir kali menulis. Yang aku ingat, aku menulis ketika keadaan sedang gawat; sedang jatuh cinta atau sedang kehilangan.

Aku kurang mengerti saat ini ada di dalam keadaan yang mana. Jatuh cinta, iya. Kehilangan, mungkin juga iya. Karena sudah berkali-kali diucapkan selamat tinggal di saat aku jatuh cinta kembali.

Baiklah, keadaan yang mana pun, aku akan tetap menulisnya. Bismillah. Doakan.


***


Pertama-tama, terima kasih kepada playlist K-Pop di Deezer, karena sudah mengusir pikiran-pikiran aneh di tengah malam. Cukup berguna dalam beberapa bulan belakangan.

Aku cukup bingung ketika aku merasa kenapa di antara malam susah tidurku, kamu hanya hadir sedikit. Ada, tapi sedikit.

Saat itu, sejauh yang aku tahu, kita akan baik-baik saja meskipun sedang tidak baik-baik saja.

Yang lebih aku takutkan saat itu adalah bagaimana aku bisa tetap hidup berkecukupan ketika cicilan yang harus aku bayar setiap bulan semakin menakutkan.

Bagaimana aku bisa menikah jika menabung sedikit saja sangat susah.

Bagaimana aku bisa menjadi layak ketika nanti tinggal bersama.

Itu, dan itu yang terus yang aku pikirkan. Tidak bosan dan tidak juga hilang.

Kamu selalu bilang semua akan baik-baik saja. Aku selalu menghindar dan mengira ini tidak akan baik-baik saja jika aku masih begini adanya.

Kamu selalu percaya aku bisa melewati masa-masa ini dengan bersama. Aku selalu bersikeras tidak ingin kamu terbebani dengan ini semua.

Itu semua, sampai kamu mulai lelah menghadapi ego yang terus aku makan. Kemudian semuanya terasa semakin rumit ketika kamu mulai berhenti percaya.

Keadaan semakin memburuk. Kamu jadi mulai sering hadir di malam susah tidurku. Aku pikir kamu tidak perlu hadir sesering itu karena kita akan baik-baik saja. Tetapi, kenyataannya tidak sama sekali.

Kamu mulai lelah menemani. Tidak terasa situasi semakin sulit untuk dikendalikan. Banyak debat yang selalu bisa dimulai dari mana saja. Banyak pertanyaan tentang kapan ini semua akan selesai dan kembali seperti sedia kala; aku hanya diam, bingung. Bodoh sekali.

Kenapa seorang laki-laki tidak bisa mengambil keputusan? Bagaimana seorang laki-laki tidak berani menerima risiko?

Ketika itu belum selesai aku pikirkan, akhirnya ucapan selamat tinggal itu diucapkan juga. Berkali-kali datangnya. Matilah aku. Sampai yang terakhir kalinya, kamu bilang kalau kamu akan jauh lebih baik dengan orang yang lebih bisa menghargai kamu. Mati lagi aku.

Ternyata aku mengabaikan yang paling penting. Membiarkannya pergi ketika seharusnya aku pertahankan sebaik-baiknya. Yang selalu ada dan tinggal dengan segala masalahku dan aku selalu mendorongnya menjauh.

Kesalahan sangat besar ada padaku. Aku yang coba menyelesaikan satu hal dengan mengabaikan hal lainnya, membuat hal lain itu pergi meninggalkan.

Aku sadar seharusnya ini bukan hal yang harus dipisahkan, melainkan dilalui. Bersama.

Aku bahkan tidak akan sanggup melihat kamu bersama orang lain nantinya. Tolong bilang kalau aku masih boleh berjuang kembali. Aku akan coba sekali lagi jika memang diperbolehkan.

Memulai kembali apa yang seharusnya kita lalui bersama-sama.


***

 

Sesudahnya, aku akan tetap membawa hati ini ke tujuan pertama; bersamamu.

Ke mana pun hati kamu nantinya jatuh, 

Selalu ada tempat khusus di sini ─hati yang aku asingkan untuk kita berdua bertemu kembali jika diizinkan.

Soal bagaimana nantinya, aku coba minta bantuan Tuhan.

Jika memang diizinkan bersama, aku amini.

Jika tidak, aku akan minta minta bantuan Tuhan lagi. 


 

Minggu, 31 Mei 2020

Dewasa yang Mendewasakan


Untuk masa-masa sulit dalam kehidupan, sikap yang akan diambil untuk menyelesaikannya sangatlah menentukan. Cepat boleh, ceroboh, jangan. Karenanya, ambil sikap dengan bijak. Jadilah manusia dengan pemikiran yang memperhitungkan segala risiko dalam mengambil keputusan. Jadilah dewasa.

Jadilah dewasa.

Jadilah dewasa.

Jadilah dewasa.

Jadilah dewasa.

***

Ada fase di mana manusia mengalami kesulitan, keresahan dan kegelisahan. Kemudian, seolah-olah semuanya harus dihadapi dan diselesaikan dengan benar. Akan tetapi, bagaimana cara menyelesaikannya dengan benar? Benar menurut siapa? Benar atas dasar apa?

Sebelumnya, mari sadari jika semuanya pasti berubah. Hal baik menjadi buruk, hal baik menjadi lebih baik, hal buruk menjadi baik dan hal buruk menjadi lebih buruk. Ke manapun arah perubahannya, kamu hanya perlu siap menghadapi dan menerimanya.

Kemudian jika kebenarannya adalah; waktu tidak pernah mau menunggu sampai kamu siap, yang bisa kamu lakukan adalah tetap berjalan dan menerima karena waktu akan terus berjalan. Jangan terjebak dalam lingkar waktu yang membuat kamu kesulitan mencari jawaban, karena sisi luar lingkar waktu bisa jauh lebih luas dan membebaskan untuk menemukan jawaban.

Setelah itu cobalah untuk menghidupi diri sendiri. Ingatlah bahwa semuanya dimulai dari diri sendiri. Hidupilah selagi ada waktu, karena tahap selanjutnya akan jauh lebih rumit. Percayalah bahwa akan lebih mudah untuk memahami orang lain jika sudah bisa memahami diri sendiri karena kamu pasti tahu batasan diri sendiri, kemudian kalkulasikan batasan diri tersebut dengan segala hal yang perlu dilakukan untuk memahami orang lain.

Kewajiban membahagiakan juga seolah-olah menjadi tanggung jawab ketika dirasa sudah bisa memahami orang lain. Selama belum memiliki ikatan pernikahan, sadari bahwa hal tabu seperti memiliki tanggung jawab membahagiakan orang lain bukanlah keharusan. Jadi, pastikan kesulitan dan kekhawatiran kamu bukan tentang ini karena masih banyak kekhawatiran yang lebih penting untuk diselesaikan.

Untuk setiap definisi kedewasaan, tidak ada yang bisa dijelaskan dengan mudah. Menjadi dewasa memang bukan untuk didefinisikan atau dijelaskan, melainkan untuk dilakukan. Di antara semua kemudahan yang bisa dilihat dari orang sekelilingmu, mereka pasti memiliki kesulitannya sendiri.

Yang membedakan hanyalah bagaimana cara mereka menyelesaikannya. Bagaimana meluruskan kembali benang yang kusut. Sulit, tapi pasti bisa dilakukan. Untuk itu, berpikirlah untuk menyelesaikannya. Proses berpikir yang akan membuat kamu menjadi dewasa. Yang akan merubah pola pikir. Yang mendewasakan.

Pada akhirnya, segala kesulitan dan kegelisahan akan membawa kamu menuju kedewasaan. Penolakan dan kehilangan hanya harus dilalui karena waktu akan terus berjalan. Kita semua akan sangat terbiasa dengan itu.

Waktu tidak bisa dihargai dengan apapun. Jangan sampai membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa sebuah kepuasan. Mulailah hidup sesuai yang kamu inginkan. Menata hidup dengan benar sedini mungkin.

"Astaga, sulit sekali menjadi dewasa."

Minggu, 30 Juni 2019

Berdamai dengan Jarak



“Mungkinkah dirasakan…”
“Kebahagiaan yang abadi…”
“Mungkinkah didapatnya…”
“Sekeping cintanya…”

Candra Darusman – Ballada Seorang Dara (1981)

***

Jadi Tuhan menciptakan jarak untuk lebih memaknai suatu pertemuan. Agar setiap waktu yang dilewati sebelum datang waktu bertemu itu terasa lebih lama. Agar setiap pesan rindu yang terkirim melalui media daring terasa lebih berarti. Agar setiap manusia yang saling merindu bisa senantiasa menghargai setiap detiknya saat bertemu.

Jangan takut untuk rindu jika susah bertemu. Memang, susah. Tapi, tidak bisa menghindar. Cukup sampaikan jika kamu rindu, dan tunggu kata-kata yang sama keluar dari dia, maka kamu adalah obat bagi kesepiannya saat itu. Mungkin seseorang yang lain di dekat dia bisa mengingatnya dalam berbagai keadaan, tapi kamu adalah yang paling tepat untuknya bersandar jika dekat.

Maka percayakan segalanya dengan do’a dan usaha; bagaimana mereka bekerja dengan adil menyampaikan kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan melihat, mana yang sungguh-sungguh ingin dipertemukan.  Ditengah-tengah kesibukan, saling berkejar kabar dan menunggu dengan sabar.

Seharusnya tidak terlalu susah jika dilewati bersama. Saling membuat segalanya menjadi mudah jika disisipkan sedikit tawa saat mengejar kabar dan saling menjaga api tetap menyala ─membara. Membuatnya tetap ceria walau hanya dihadiahi sedetik tunggu saat itu.

Demi waktu dan jarak yang menciptakan rindu, sebenarnya semua pasti terasa lebih mudah jika dekat. Namun apakah memang sudah digariskan, bahwa yang menjalani harus menjadi lebih kuat, harus lebih bijak. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Tidak ada yang tahu.

Maka pada akhirnya kita sendiri yang menentukan akan sekuat apa diri kita dalam mempertahankan. Membuat algoritma untuk menentukan sikap setiap harinya dalam merindu. Menjadikan gelap malam mengeluarkan pesona dengan personanya.

Lalu jika kita yang menciptakan jarak itu sendiri, bukankah sama saja dengan menyiksa diri sendiri?

Tentu tidak. Karena sebenar-benarnya kita memilih, pada akhirnya hati akan memilih yang menurutnya tepat, bukan yang menurutnya dekat.

Bandung, 2019

Rabu, 02 Januari 2019

Tentang Memulai Cerita


"..."
"..."
"Kenapa, mules?"
"..."


***

Malam ini isi kepala mempersilakan jari untuk menulis apa yang sedang mengalir dalam pikiran. Menuangkannya ke dalam tulisan dengan pemilihan kata. Diselesaikan dengan bantuan segelas kopi di atas meja sebelah kanan. Dibaca agar setidaknya bisa meringankan luka.

***

Ada kalanya sebuah cerita akan berakhir. Bagaimanapun ceritanya, yang di harapkan pasti akhir yang bahagia. Bahagia untuk semua yang membaca, untuk semua yang melihat, untuk semua yang terlibat di dalamnya. Tapi sepertinya tidak semua cerita berakhir dengan bahagia, ya?

Jangan sedih. Tuhan tidak akan membiarkan manusianya menderita. Tuhan hanya memberi pelajaran jika terlalu lama bertahan dengan sesuatu yang salah, itu akan membuat kamu mendapatkan hal yang tidak baik. Jika bertahan dengan hubungan yang salah, itu akan membuat kamu mendapatkan hal yang tidak baik juga; sakit hati, tidak di hargai, tidak merasa di butuhkan, kanker, serangan jantung dan gangguan kehamilan dan janin.

Baik, tidak lucu.

Kata orang, selalu ada hal baik di dalam hal yang tidak baik. Artinya, hal-hal yang bisa kamu ambil untuk cerita berikutnya yang akan kamu mulai agar tidak terjadi lagi. Karena kebanyakan masih saja mengalami hal yang sama berulang-ulang di bagian cerita yang berbeda. Jika begitu, kemungkinannya dua; sial atau tidak belajar dari cerita lalu.

Ketika memulai cerita yang baru, tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama persis. Seperti buku dan film, orang-orang tidak akan suka jika ceritanya selalu sama dengan sebelumnya. Begitu juga kamu, tuan, nyonya. Coba buat cerita baru kamu lebih menarik dari sebelumnya. Coba buat cerita kamu berbeda dari sebelumnya. Coba buat cerita kamu tidak membosankan seperti sebelumnya.

Sebelum memulai cerita yang baru, silakan perbaiki diri. Buang segala yang membuat cerita kamu berakhir sebelumnya —egois biasanya virus yang sangat sulit hilang. Pastikan kamu benar-benar sudah selesai dengan cerita yang lalu, dan siap membuat cerita baru dengan lebih baik dan lebih menyenangkan. Akan sangat sulit jika membaca buku yang baru ketika buku yang lama belum selesai dibaca. Silakan artikan kalimat tadi.

Teruntuk yang ceritanya belum selesai, selamat. Berarti cerita kamu masih sangat menarik untuk dilanjutkan, atau setidaknya dipertahankan jalan ceritanya. Ingat bahwa kamu harus selalu memastikan semuanya tetap menarik dan menyenangkan untuk dilanjutkan.

Cara terbaik adalah dengan saling mengingatkan jika sudah mulai bosan. Saling berbicara jika sudah terasa tidak sesuai selera. Saling menyemangati agar setiap harinya lebih berarti.

Saling menjaga diri, ingat saat berjanji, buktikan dengan berani.


Bogor, saat hujan, 2019

Senin, 06 Agustus 2018

Mengakui Rindu



”Aku mau putus aja!”

"Tapi..."

"Ngga ada tapi-tapian!"

"Tapi kan kita ngga pacaran..." 

"Uh... Em..."

---

Baiklah. Beberapa orang terkadang tidak mampu mengatakan. Beberapa orang tekadang tidak mampu menebak perasaan. Beberapa orang terkadang tidak mampu menentukan pilihan. Beberapa lainnya malah masih sibuk meratapi nasib sial karena ditinggalkan.

Jadi terkadang hati tidak mampu menangkap dan mengerti apa yang sedang terjadi. Ketika berhasil menyadari dan mengerti, sering juga tidak menerima. Tidak menerima kalau yang sedang dirasakan adalah sedang merindukan. Karena biasanya yang berat adalah ketika mengungkapkan.

Jika ragu, sebaiknya jangan. Jika yakin, pertahankan mati-matian. Dia tidak masuk ke dalam pikiran untuk mengganggu, melainkan untuk menyadarkan. Menyadarkan kalau ternyata yang berhasil masuk ke dalam pikiran adalah yang kamu sedang rindukan. Susah tidur itu biasanya efek samping. Tidak berbahaya. Tidak menyebabkan kematian. 

Merindu itu perlu. Biarkan datang dan jangan dilawan. Jarak dan waktu biasanya datang untuk menghalangi. Biarkan, itu sudah rencana Tuhan. Kurang baik apa, sampai merencanakan jarak menyelesaikan rindu, agar pertemuan berikutnya tidak terburu-buru dan tidak cepat berlalu. Agar pertemuan berikutnya berarti dan tidak diingkari.

Mari lihat air muka dari orang yang sedang rindu. Ada banyak ekspresi tergambar di sana. Coba jelaskan bagaimana ekspresinya —tidak bisa. Cukup di mengerti dan hanya bisa di rasakan.

Sadari tanda-tanda rindu yang datang. Memang tidak terlihat masuk lewat mana, tapi, pasti bisa dirasakan datangnya dari mana. Sangat jelas. Coba rasakan sendiri.

Dari mata yang selalu kita pandangi. \

Dari caranya tersenyum.

Dari caranya melihat kembali dengan senyum lagi sebagai bonus.

Dari caranya tertawa.

Dari caranya memperhatikan.

Dari caranya mengatakan "Iya, aku juga rindu," dengan lembut, kepadamu.

Selamat, kamu sedang rindu saat ini.


Semarang, 2018

Jumat, 08 Juni 2018

Melankoli Isi Hati


“Kamu tidur yang nyenyak, ya.”
“Ngga. “
“Kok ngga mau?”
“Masih jam sepuluh pagi, sayangku.”

---

Duduk sendiri lagi
Sepi masih ingin ditemani
Tuhan tidak mengizinkan hujan berhenti
Kompak
Membisik agar segera menulis lagi

Tidak akan ada titik di akhir kalimat
Untuk kali ini
Mencoba membedakan sifat
Lebih berani
Untuk tidak rindu lagi

Coba cerna arti
Apa yang sudah terjadi
Yang sudah lama sekali
Masih saja seperti ini

Hadapi ketakutan
Tuhan selalu tahu batas kemampuan
Dimana manusia hanya punya rencana
Sisanya pasrah menunggu sesuatu yang fana

Kata siapa ini tentang aku?
Ini tentang orang-orang
Yang hilang keyakinan tidak berkesudahan
Yang hilang harapan
Yang belum menemukan jalan
Untuk pulang


Bogor, 2018

Kamis, 07 Juni 2018

Baca Saja, Kalau Kamu Sedang Rindu


Biarkan tulisan ini mengalir kesana kemari alurnya; karena ini ditulis dengan perasaan.

Jadi, aku masih belum berhenti merasa bersyukur, beruntung, atau apapun sebutannya itu, atas kebahagiaan ini. Belum sempurna memang, dan mungkin tidak akan pernah sempurna. Ya namanya juga manusia. Tapi tidak sempurna saja aku bahagia. Bagaimana jika sempurna seutuhnya?
“Ah, kekasihku, sesungguhnyalah sang waktu yang mempersatukan dua hati kita yang terbuang dari hati lainnya. Satu diantara banyak hal yang memperkuat keyakinanku akan keabadian. Pada ketika itulah alam merobek kerudung wajah keadilan kekal, yang disangka orang ketidakadilan.”
Jika memang ini cara Tuhan mempertemukan kita, aku sudah pasti mengatakan Dia-lah sesungguhnya sutradara terhebat. Hebat, bisa mempertemukan kita dengan seperti ini. Dengan cara yang tidak mudah sama sekali. Tidak mudah, karena butuh banyak waktu untuk ikut menyamakan perasaanku denganmu, dari titik nol. Sulit toh, ketika harus memulai semuanya dari awal.
Percayalah bahwa cinta yang katanya buta, bisa berwarna dan terlihat indahnya jika kita melakukan dan menjalankannya dengan layak. Iya, kita, aku dan kamu.
“Bukan mencari pasangan yang sempurna, tetapi cinta yang sempurna akan membuat pasangan menjadi sempurna.” Begitu kata Pidi Baiq.
Bagian terbaik adalah ketika senja sudah tiba. Senja yang manja, kalau sambil menunggu kabar dari kamu, yang kadang mengeluh rindu.
Setelah senja, kemudian fajar telah menyingsing dan kesunyian bergemuruh bersama angin pagi. Berkas-berkas pertama cahaya surya berpacu, menerangi partikel-partikel eter dan langit tersenyum laksana seorang pelamun yang melihat satu sosok bayangan, seperti kamu.
Begitu sesudahnya, aku telan sebait doa, agar rasa khawatir akan kecemasanku terobati; setelah mendoakanmu tentunya.
Terima kasih untuk selalu membuatku nyaman. Terima kasih untuk selalu meyakinkan kalau kamu pantas untuk setidaknya aku perjuangkan.