Biarkan tulisan ini mengalir kesana
kemari alurnya; karena ini ditulis dengan perasaan.
Jadi, aku masih belum berhenti merasa bersyukur, beruntung, atau apapun sebutannya itu, atas kebahagiaan ini. Belum sempurna memang, dan mungkin tidak akan pernah sempurna. Ya namanya juga manusia. Tapi tidak sempurna saja aku bahagia. Bagaimana jika sempurna seutuhnya?
“Ah, kekasihku, sesungguhnyalah sang
waktu yang mempersatukan dua hati kita yang terbuang dari hati lainnya. Satu
diantara banyak hal yang memperkuat keyakinanku akan keabadian. Pada ketika
itulah alam merobek kerudung wajah keadilan kekal, yang disangka orang
ketidakadilan.”
Jika memang ini cara Tuhan mempertemukan
kita, aku sudah pasti mengatakan Dia-lah sesungguhnya sutradara terhebat.
Hebat, bisa mempertemukan kita dengan seperti ini. Dengan cara yang tidak mudah
sama sekali. Tidak mudah, karena butuh banyak waktu untuk ikut menyamakan
perasaanku denganmu, dari titik nol. Sulit toh, ketika harus memulai semuanya
dari awal.
Percayalah bahwa cinta yang katanya
buta, bisa berwarna dan terlihat indahnya jika kita melakukan dan menjalankannya
dengan layak. Iya, kita, aku dan kamu.
“Bukan mencari pasangan yang sempurna,
tetapi cinta yang sempurna akan membuat pasangan menjadi sempurna.” Begitu kata
Pidi Baiq.
Bagian terbaik adalah ketika senja sudah
tiba. Senja yang manja, kalau sambil menunggu kabar dari kamu, yang kadang
mengeluh rindu.
Setelah senja, kemudian fajar telah
menyingsing dan kesunyian bergemuruh bersama angin pagi. Berkas-berkas pertama
cahaya surya berpacu, menerangi partikel-partikel eter dan langit tersenyum
laksana seorang pelamun yang melihat satu sosok bayangan, seperti kamu.
Begitu sesudahnya, aku telan sebait doa,
agar rasa khawatir akan kecemasanku terobati; setelah mendoakanmu tentunya.
Terima kasih untuk selalu membuatku
nyaman. Terima kasih untuk selalu meyakinkan kalau kamu pantas untuk setidaknya
aku perjuangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar