"Sudah sejauh mana?
"Belum tahu. Menurut kamu?"
---
Sini, duduk. Ada yang ingin aku ceritakan. Tentang bagaimana manusia bisa menjadi tua. Tentang bagaimana batu bisa terkikis dan habis. Tentang bagaimana lumut akan tumbuh dengan lebat di dinding lembab. Tentang bagaimana waktu memainkan segala perannya.
Tidak ada satupun yang luput dari pandangan Tuhan. Iya, siapapun yang berkata seperti itu pertama kali, dia benar. Lebih tepatnya, maksudnya, tidak ada satupun yang nasibnya diatur selalu beruntung seumur hidupnya. Nanti manusia yang lain iri. Jadi, semuanya kembali ke kamu-kamu ini. Mungkin di satu waktu kamu bisa merasakan bagaimana sialnya hari-hari kamu, tapi di satu waktu lain kamu boleh percaya kalau keberuntungan bisa datang ke kamu juga -bahkan dengan cara yang sangat tidak masuk akal. Karena apa? Karena Tuhan yang berbuat. Tenang.
Ada yang merasa hidupnya sangat tidak berguna hari ini? Ada yang merasa hidupnya tidak beruntung hari ini? Ada yang masih miskin dan belum kaya raya dari dulu padahal kerjanya cuma melamun dirumah?
Waktu selalu bisa menunjukkan segalanya. Tuhan memberikanmu petunjuk dan segala jalannya, melalui banyak cara. Ibaratkan waktu adalah platform utamanya yang absolut dan petunjuknya adalah menu-menu utama di dalam platform tersebut. Kamu bisa memilih dan memainkan menunya, tapi tidak dengan platform utamanya. Coba cerna. Artinya kita sedang berada dalam satu ruang besar dimana kita sedang dipermainkan oleh waktu.
Diperjelas, ya. "Dipermainkan oleh waktu". "Dipermainkan".
Kamu bisa menang hari ini, besok belum tentu. Kamu bisa bahagia hari ini, besok belum tentu. Kamu bisa hidup hari ini, besok belum tentu. Karena waktu sedang mempermainkan perannya saat itu. Saat ini, detik ini.
Ketika hari ini dia bisa tertawa dan tidak peduli karena sudah menyakiti kamu, silakan dipikirkan kembali apa yang akan mungkin bisa terjadi besok, minggu depan, atau terserah kapan. Tuhan yang tau. Untuk yang disakiti, jangan anggap hidup kamu sudah selesai karena dia. Tidak, nona. Kepergiannya seharusnya sudah menjelaskan semua, bahwa apa lagi yang kamu harapkan dari seseorang yang keinginan dan perasaannya sudah tidak mengarah lagi kepada kamu?
"Kenapa susah-susah mencari ketika akhirnya ternyata bukan aku yang kamu butuhkan?"
Hidup itu pembelajaran. Telanlah obat yang rasanya pahit untuk mendapatkan sembuh kemudian. Bahagia tidak akan selalu mudah jalannya. Ingatlah bahwa waktu sedang memainkan perannya dan sedang mengajarimu untuk jadi lebih kuat di esok hari.
Akan ada waktunya dimana yang menyakitimu akan sadar, nona. Sadar atas apa yang dia perbuat. Sadar akan sekeras apa dia menghancurkanmu waktu itu. Sadar karena dia sedang dihancurkan dengan cara yang sama, bahkan bisa lebih menyedihkan.
Ketika tiba waktunya, kamu bisa tersenyum dan berterima kasih kepadanya atas masa lalu yang mendewasakanmu.
Ketika tiba waktunya kamu menemukan kebahagiaanmu, sempurnalah sudah pembalasanmu.
Jakarta, 2018

