Kamis, 19 April 2018

Bermainlah, Waktu



"Sudah sejauh mana?

"Belum tahu. Menurut kamu?"

---

Sini, duduk. Ada yang ingin aku ceritakan. Tentang bagaimana manusia bisa menjadi tua. Tentang bagaimana batu bisa terkikis dan habis. Tentang bagaimana lumut akan tumbuh dengan lebat di dinding lembab. Tentang bagaimana waktu memainkan segala perannya.

Tidak ada satupun yang luput dari pandangan Tuhan. Iya, siapapun yang berkata seperti itu pertama kali, dia benar. Lebih tepatnya, maksudnya, tidak ada satupun yang nasibnya diatur selalu beruntung seumur hidupnya. Nanti manusia yang lain iri. Jadi, semuanya kembali ke kamu-kamu ini. Mungkin di satu waktu kamu bisa merasakan bagaimana sialnya hari-hari kamu, tapi di satu waktu lain kamu boleh percaya kalau keberuntungan bisa datang ke kamu juga -bahkan dengan cara yang sangat tidak masuk akal. Karena apa? Karena Tuhan yang berbuat. Tenang.

Ada yang merasa hidupnya sangat tidak berguna hari ini? Ada yang merasa hidupnya tidak beruntung hari ini? Ada yang masih miskin dan belum kaya raya dari dulu padahal kerjanya cuma melamun dirumah?

Waktu selalu bisa menunjukkan segalanya. Tuhan memberikanmu petunjuk dan segala jalannya, melalui banyak cara. Ibaratkan waktu adalah platform utamanya yang absolut dan petunjuknya adalah menu-menu utama di dalam platform tersebut. Kamu bisa memilih dan memainkan menunya, tapi tidak dengan platform utamanya. Coba cerna. Artinya kita sedang berada dalam satu ruang besar dimana kita sedang dipermainkan oleh waktu.

Diperjelas, ya. "Dipermainkan oleh waktu". "Dipermainkan".

Kamu bisa menang hari ini, besok belum tentu. Kamu bisa bahagia hari ini, besok belum tentu. Kamu bisa hidup hari ini, besok belum tentu. Karena waktu sedang mempermainkan perannya saat itu. Saat ini, detik ini.

Ketika hari ini dia bisa tertawa dan tidak peduli karena sudah menyakiti kamu, silakan dipikirkan kembali apa yang akan mungkin bisa terjadi besok, minggu depan, atau terserah kapan. Tuhan yang tau. Untuk yang disakiti, jangan anggap hidup kamu sudah selesai karena dia. Tidak, nona. Kepergiannya seharusnya sudah menjelaskan semua, bahwa apa lagi yang kamu harapkan dari seseorang yang keinginan dan perasaannya sudah tidak mengarah lagi kepada kamu?

"Kenapa susah-susah mencari ketika akhirnya ternyata bukan aku yang kamu butuhkan?"

Hidup itu pembelajaran. Telanlah obat yang rasanya pahit untuk mendapatkan sembuh kemudian. Bahagia tidak akan selalu mudah jalannya. Ingatlah bahwa waktu sedang memainkan perannya dan sedang mengajarimu untuk jadi lebih kuat di esok hari.

Akan ada waktunya dimana yang menyakitimu akan sadar, nona. Sadar atas apa yang dia perbuat. Sadar akan sekeras apa dia menghancurkanmu waktu itu. Sadar karena dia sedang dihancurkan dengan cara yang sama, bahkan bisa lebih menyedihkan.

Ketika tiba waktunya, kamu bisa tersenyum dan berterima kasih kepadanya atas masa lalu yang mendewasakanmu.

Ketika tiba waktunya kamu menemukan kebahagiaanmu, sempurnalah sudah pembalasanmu.


Jakarta, 2018

Sabtu, 07 April 2018

Bahagialah Yang Berjuang




"Iya, iya, kabar baik."

Terima kasih, sudah menunggu.

Bagaimana awalnya, tadi? Sudah lupa. Sudah terlalu lama. Hilang begitu saja.

---

Ada cerita dalam film Titanic, cerita Jack dan Rose tentang kisah cinta mereka. Cinta sejati, katanya. Iya, cinta sejati. Kapal yang berangkat tanggal 10 April 1912, tenggelam tanggal 15 April 1912, dan mereka bertemu di hari kedua pelayaran. Cinta yang langsung datang begitu saja dalam waktu 4 hari ketika pertama kali bertemu. Sebentar. Masih yakin, itu namanya cinta?

Anggap saja iya. Itu kan hanya film. Dan kembali ke kamu, bagaimana? Bisa jatuh cinta dalam waktu sesingkat apa?

Bisa dipikirkan lagi. Nyatanya, butuh waktu untuk membuktikan sebesar apa perasaan itu. Terkadang yang sudah berbulan atau bertahun pun belum tentu saling mencintai, atau salah satunya di antara keduanya yang belum bisa mencintai. Terkadang yang saling mencintai justru pada kenyataannya tidak bisa bersama.

Ketika sudah berhasil saling mencintai dan masih bisa bersama-sama, pertahankan. Sudah berhasil mencintai bukan berarti bisa menghilangkan ego. Karena ujiannya adalah, semakin besar perasaan kamu, maka membesar juga rasa ego dalam diri kamu. Terkadang kamu lupa karena mengikatnya terlalu kuat dengan ego kamu, sampai lupa kalau dia bisa merasakan sakit karena ikatannya terlalu kuat dan berteriak untuk dilepas saja sekalian ikatannya. Artinya? Silakan tafsir sendiri.

Anggap ego adalah batu yang masuk ke dalam sepatu. Mengganggu. Kita tidak bisa berjalan jauh dengan keadaan seperti itu. Berhentilah sejenak untuk menghentikan perjalanan, buang semua yang mengganggu, persiapkan kembali dan mulailah kembali berjalan.

Jangan khawatir, tetaplah percaya. Jangan sampai cinta yang sulit datangnya, hilang begitu saja.  Bertahanlah, istirahat sebentar. Jangan berhenti dan berakhir. Yakinlah setelah beristirahat sejenak, perjalanan akan lebih mudah dilalui. Jadikan kepercayaan sebagai cahaya untuk menemani kamu berjalan ketika terasa gelap.

Jadi... Bahagialah, yang masih bertahan. Yang malam ini sedang merasakan kebahagiaannya, silahkan tersenyum pada yang membahagiankan kamu, dan katakan terima kasih padanya. Percayalah, kemudian keduanya akan merasakan hal yang sama.



Bogor, 2018