Jumat, 08 Juni 2018

Melankoli Isi Hati


“Kamu tidur yang nyenyak, ya.”
“Ngga. “
“Kok ngga mau?”
“Masih jam sepuluh pagi, sayangku.”

---

Duduk sendiri lagi
Sepi masih ingin ditemani
Tuhan tidak mengizinkan hujan berhenti
Kompak
Membisik agar segera menulis lagi

Tidak akan ada titik di akhir kalimat
Untuk kali ini
Mencoba membedakan sifat
Lebih berani
Untuk tidak rindu lagi

Coba cerna arti
Apa yang sudah terjadi
Yang sudah lama sekali
Masih saja seperti ini

Hadapi ketakutan
Tuhan selalu tahu batas kemampuan
Dimana manusia hanya punya rencana
Sisanya pasrah menunggu sesuatu yang fana

Kata siapa ini tentang aku?
Ini tentang orang-orang
Yang hilang keyakinan tidak berkesudahan
Yang hilang harapan
Yang belum menemukan jalan
Untuk pulang


Bogor, 2018

Kamis, 07 Juni 2018

Baca Saja, Kalau Kamu Sedang Rindu


Biarkan tulisan ini mengalir kesana kemari alurnya; karena ini ditulis dengan perasaan.

Jadi, aku masih belum berhenti merasa bersyukur, beruntung, atau apapun sebutannya itu, atas kebahagiaan ini. Belum sempurna memang, dan mungkin tidak akan pernah sempurna. Ya namanya juga manusia. Tapi tidak sempurna saja aku bahagia. Bagaimana jika sempurna seutuhnya?
“Ah, kekasihku, sesungguhnyalah sang waktu yang mempersatukan dua hati kita yang terbuang dari hati lainnya. Satu diantara banyak hal yang memperkuat keyakinanku akan keabadian. Pada ketika itulah alam merobek kerudung wajah keadilan kekal, yang disangka orang ketidakadilan.”
Jika memang ini cara Tuhan mempertemukan kita, aku sudah pasti mengatakan Dia-lah sesungguhnya sutradara terhebat. Hebat, bisa mempertemukan kita dengan seperti ini. Dengan cara yang tidak mudah sama sekali. Tidak mudah, karena butuh banyak waktu untuk ikut menyamakan perasaanku denganmu, dari titik nol. Sulit toh, ketika harus memulai semuanya dari awal.
Percayalah bahwa cinta yang katanya buta, bisa berwarna dan terlihat indahnya jika kita melakukan dan menjalankannya dengan layak. Iya, kita, aku dan kamu.
“Bukan mencari pasangan yang sempurna, tetapi cinta yang sempurna akan membuat pasangan menjadi sempurna.” Begitu kata Pidi Baiq.
Bagian terbaik adalah ketika senja sudah tiba. Senja yang manja, kalau sambil menunggu kabar dari kamu, yang kadang mengeluh rindu.
Setelah senja, kemudian fajar telah menyingsing dan kesunyian bergemuruh bersama angin pagi. Berkas-berkas pertama cahaya surya berpacu, menerangi partikel-partikel eter dan langit tersenyum laksana seorang pelamun yang melihat satu sosok bayangan, seperti kamu.
Begitu sesudahnya, aku telan sebait doa, agar rasa khawatir akan kecemasanku terobati; setelah mendoakanmu tentunya.
Terima kasih untuk selalu membuatku nyaman. Terima kasih untuk selalu meyakinkan kalau kamu pantas untuk setidaknya aku perjuangkan.