Minggu, 30 Juni 2019

Berdamai dengan Jarak



“Mungkinkah dirasakan…”
“Kebahagiaan yang abadi…”
“Mungkinkah didapatnya…”
“Sekeping cintanya…”

Candra Darusman – Ballada Seorang Dara (1981)

***

Jadi Tuhan menciptakan jarak untuk lebih memaknai suatu pertemuan. Agar setiap waktu yang dilewati sebelum datang waktu bertemu itu terasa lebih lama. Agar setiap pesan rindu yang terkirim melalui media daring terasa lebih berarti. Agar setiap manusia yang saling merindu bisa senantiasa menghargai setiap detiknya saat bertemu.

Jangan takut untuk rindu jika susah bertemu. Memang, susah. Tapi, tidak bisa menghindar. Cukup sampaikan jika kamu rindu, dan tunggu kata-kata yang sama keluar dari dia, maka kamu adalah obat bagi kesepiannya saat itu. Mungkin seseorang yang lain di dekat dia bisa mengingatnya dalam berbagai keadaan, tapi kamu adalah yang paling tepat untuknya bersandar jika dekat.

Maka percayakan segalanya dengan do’a dan usaha; bagaimana mereka bekerja dengan adil menyampaikan kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan melihat, mana yang sungguh-sungguh ingin dipertemukan.  Ditengah-tengah kesibukan, saling berkejar kabar dan menunggu dengan sabar.

Seharusnya tidak terlalu susah jika dilewati bersama. Saling membuat segalanya menjadi mudah jika disisipkan sedikit tawa saat mengejar kabar dan saling menjaga api tetap menyala ─membara. Membuatnya tetap ceria walau hanya dihadiahi sedetik tunggu saat itu.

Demi waktu dan jarak yang menciptakan rindu, sebenarnya semua pasti terasa lebih mudah jika dekat. Namun apakah memang sudah digariskan, bahwa yang menjalani harus menjadi lebih kuat, harus lebih bijak. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Tidak ada yang tahu.

Maka pada akhirnya kita sendiri yang menentukan akan sekuat apa diri kita dalam mempertahankan. Membuat algoritma untuk menentukan sikap setiap harinya dalam merindu. Menjadikan gelap malam mengeluarkan pesona dengan personanya.

Lalu jika kita yang menciptakan jarak itu sendiri, bukankah sama saja dengan menyiksa diri sendiri?

Tentu tidak. Karena sebenar-benarnya kita memilih, pada akhirnya hati akan memilih yang menurutnya tepat, bukan yang menurutnya dekat.

Bandung, 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar