Senin, 06 Agustus 2018

Mengakui Rindu



”Aku mau putus aja!”

"Tapi..."

"Ngga ada tapi-tapian!"

"Tapi kan kita ngga pacaran..." 

"Uh... Em..."

---

Baiklah. Beberapa orang terkadang tidak mampu mengatakan. Beberapa orang tekadang tidak mampu menebak perasaan. Beberapa orang terkadang tidak mampu menentukan pilihan. Beberapa lainnya malah masih sibuk meratapi nasib sial karena ditinggalkan.

Jadi terkadang hati tidak mampu menangkap dan mengerti apa yang sedang terjadi. Ketika berhasil menyadari dan mengerti, sering juga tidak menerima. Tidak menerima kalau yang sedang dirasakan adalah sedang merindukan. Karena biasanya yang berat adalah ketika mengungkapkan.

Jika ragu, sebaiknya jangan. Jika yakin, pertahankan mati-matian. Dia tidak masuk ke dalam pikiran untuk mengganggu, melainkan untuk menyadarkan. Menyadarkan kalau ternyata yang berhasil masuk ke dalam pikiran adalah yang kamu sedang rindukan. Susah tidur itu biasanya efek samping. Tidak berbahaya. Tidak menyebabkan kematian. 

Merindu itu perlu. Biarkan datang dan jangan dilawan. Jarak dan waktu biasanya datang untuk menghalangi. Biarkan, itu sudah rencana Tuhan. Kurang baik apa, sampai merencanakan jarak menyelesaikan rindu, agar pertemuan berikutnya tidak terburu-buru dan tidak cepat berlalu. Agar pertemuan berikutnya berarti dan tidak diingkari.

Mari lihat air muka dari orang yang sedang rindu. Ada banyak ekspresi tergambar di sana. Coba jelaskan bagaimana ekspresinya —tidak bisa. Cukup di mengerti dan hanya bisa di rasakan.

Sadari tanda-tanda rindu yang datang. Memang tidak terlihat masuk lewat mana, tapi, pasti bisa dirasakan datangnya dari mana. Sangat jelas. Coba rasakan sendiri.

Dari mata yang selalu kita pandangi. \

Dari caranya tersenyum.

Dari caranya melihat kembali dengan senyum lagi sebagai bonus.

Dari caranya tertawa.

Dari caranya memperhatikan.

Dari caranya mengatakan "Iya, aku juga rindu," dengan lembut, kepadamu.

Selamat, kamu sedang rindu saat ini.


Semarang, 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar